Friday, 29 June 2012

Cerpen Remaja "Kuli Cinta"


Kuli Cinta
Oleh : Isnaeni DK
Tak perlu bingung jika ada yang bertanya mengapa aku jatuh cinta pada Dahlia, atau ia yang akrab dipanggil Lia. Aku akan bilang karena selain Lia berparas cantik dan wajahnya bening, ia punya segudang prestasi dan memiliki daya tarik tersendiri bagiku. Lia adalah juara umum lomba karya tulis ilmiah tahun ini. Ia juga menjuarai sayembara menulis esai tingkat kabupaten dan berhasil membawa pulang piala Bupati. Piala di rumahnya banyak karena sejak kecil ia sudah punya bawaan prestasi dari mbah buyutnya. Hehe,..mungkin. Yang pasti, Lia adalah sosok sempurna di mataku walau ada yang mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna.
Nyatanya, sampai sekarang tak ada yang menanyakan mengapa aku jatuh cinta padanya. Karena apa? Karena aku menyimpan ini dalam-dalam di dasar hati, agar tak ada yang bisa menyelaminya. Pun Lia, ia tak sadar akan perhatianku selama ini yang membuatku memberi gelar pada diriku sendiri sebagai…kuli cinta! Malang sekali…
---

Lia yang sekelas denganku sering dapat surat dispensasi untuk meninggalkan kelas karena seabrek kegiatan di sekolah ini. Ia yang jadi pengurus OSIS, Rohis, juga PMR. Heran juga! Kenapa ia mau capek-capek menguras tenaga untuk sibuk disana. Tapi belakangan aku sadar kalau hal itulah yang membuat ia punya banyak prestasi. Tidak seperti aku. Kutu buku yang cerdas pun bukan, aktif di organisasi pun tidak. Hanya, aku memang jago main voli. Katanya sih..hihihi.
“Gak masuk lagi?” tanyaku padanya yang hendak menenteng tasnya keluar kelas.
“Iya nih, Gih. Ada rapat OSIS nih. Kita mau bahas classmeeting…” jawabnya.
“Owh,…”
“Eh, Gih. Aku bisa minta tolong nggak ya?”
“Minta tolong apa?”
“Tugas sejarah yang mau dikumpulkan besok itu, belum aku print. File-nya ada di falshdisk. Kamu bisa print kan nggak? Habis jam ini aku nggak masuk lagi sampai jam terakhir. Kemungkinan besar aku juga di sekolah sampai sore dan tak sempat ke rental. Malam hari, kamu pasti tahu lah, aku nggak mungkin keluar rumah. Papa dan Mama tak akan mengijinkan. Anak perempuan nggak baik keluar malam.” panjang kali lebar kali tinggi Lia memaparkan permintaan tolongnya. Padahal tanpa ia berkata seperti itu naluri ‘kekulianku’ akan mengiyakan. “Tapi kalau kamu nggak keberatan sih. Misal sibuk, ya nanti aku minta tolong yang lain…”
“Flashdisk-nya mana? nanti sepulang sekolah aku mampir rental. Nanti ku SMS kalau udah selesai.” Aku nggak akan basa-basi. Kuli cintamu siap bekerja, Lia. Hah!
Dan siangnya, rental langgananku penuh sesak. Empat komputer sama-sama dipakai buat ngerjain tugas oleh anak-anak kelas sepuluh. Mana aku nggak kenal lagi. Jadi nggak mungkin nyelonong minta tolong buat ngeprint sebentar. Joko si jaga rental juga tengah sibuk dengan prin-prinannya. Akhirya menunggu. Setengah jam berlalu, perutku keroncongan minta diisi. Memang aku belum makan siang. Setengah jam berikutnya, anak-anak selesai bikin tugas tapi pas ngeprint mendadak trobel printernya. Duh, semakin protes perutku. Kuputuskan untuk mencari makan sekalian shalat ashar.
Setengah empat sore, kembali ke rental. Sampai sana printer telah normal dan anak-anak yang tadi sudah tak ada jejaknya. Namun yang terjadi malah ada anak lain yang memakai komputer. Terpaksa menunggu lagi hingga jam lima. Saat itu datanglah Lia ke rental. Malu rasanya. Bahkan aku lupa untuk meng-SMS-nya.
“Li..Lia?” aku gugup.
“Gigih? Kamu masih disini ya. Sedang apa? Tugasku sudah kamu print kan? Papaku sebentar lagi datang menjemput.”
Lia cintaku, maafkan aku.
“Dari tadi rame banget, aku belum sempat ngeprint tugasmu. Maaf ya. Tapi bentar lagi anak-anak ini selesai kok. Kamu tunggu bentar.”
Kelihatannya Lia hendak meminta flasdisknya agar diprint di tempat lain ketika perjalanan pulang. Tapi aku tahu ia tak akan mungkin begitu. Ia pasti akan menghargai perjuanganku menunggu. Entahlah, aku jadi berpikir kalau ia benar-benar mengerti isi hati ini. Halah…
“Ya sudah, aku tunggu.”
Syukurlah ia mengerti juga. Tak lama aku berhasil mengeprint tugasnya, dan ia menyerahkan beberapa lembar uang ribuan padaku untuk membayar. Ia pamit pulang setelah Papanya datang. Tentunya ia ucapkan terimakasih padaku sebelumya. Tak apa. Walau bukan kecupan mesra yang kuterima, ucapan terimakasih yang keluar dari bibirnya itu laksana pedang. Menusuk jantung hatiku…semakin membuatku jatuh cinta padanya.
Itu salah satu buktiku sebagai kuli cinta. Ada lagi. Saat itu aku baru selesai latihan voli di lapangan sekolah, dan Lia baru keluar dari markas OSIS nya. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku sengaja berlama-lama di halaman sekolah untuk menunggu Lia melintas di depanku. Benar saja, ia tersenyum padaku lalu berlalu. Ia mengambil sebuah tempat dimana ia biasa menunggu Papanya. Kawan-kawanku pulang, aku mendekatinya.
“Belum datang Papamu, Lia?”
“Oh, Papaku nggak jemput aku. Aku lagi nunggu becak.”
“Wah, jam segini becak sini udah pada pulang. Atau mungkin pindah mangkal..”
“Gitu ya?”
Aku mengangguk. Ini kesempatanku.
“Kuboncengkan saja yuk! Udah sore nih, bentar lagi maghrib.”
Lia malah memamerkan senyumnya. Ah, bukan sebuah perkataan yang keluar melainkan seulas…senyum! Mabuuuk…! Benar-benar buat aku mabuk tanpa harus meneguk alkohol.
“Kalau carikan becak aja gimana?”
Aku lebih mirip orang bodoh yang mau saja ia suruh. Aku memang kuli.
Kuambil motor lalu siap melaju mencari dimana becak itu berada. Ia harus bertemu denganku agar gadis pujaan hatiku bisa pulang. Sepuluh menit kemudian aku berhasil membawakan kereta tak berkuda untuknya. Tentu Pak becaknya juga…
Demi cinta yang kupendam untuk Lia, aku rela melakukan apa yang ia minta. Sebenarnya aku tahu, ia tak suka meminta tolong. Namun ada pengecualian sehingga ia melakukannya. Teman-temannya di rohis juga lebih suka berusaha sendiri selagi mereka bisa. Sayangnya sore itu gerimis, hujan lebat segera jatuh. Aku tak mungkin membiarkan Lia mencari becak sendiri. Padahal aku melihat keragu-raguan padanya saat ia memintaku mencarikan becak. Ah, Lia. Pada kulimu ini, suruh saja…apalagi kalau kau suruh aku masuk syurga atau menikah denganmu, aku mau sekali!
Begitulah, seterusnya sampai aku berkali-kali melakukan apapun. Membawakan dus snack yang begitu banyak untuk acara bedah buku, membelikan pulsa Lia dalam hujan lebat, mengambilkan buku-bukunya yang berantakan di lantai, dan yang lainnya. Begitu banyak sampai aku lupa. Aku ikhlas melakukannya. Tapi kesemuanya itu sebenarnya aku yang menawarkan diri. Ia hanya tak mau menolak pertolongan orang yang tulus sepertiku.
Abdi pernah bilang padaku. Saat itu aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya kurasa pada Lia.
“Sampai kapanpun, kamu akan jadi kuli buat Lia kalau kamu nggak jujur tentang perasaanmu.” katanya.
“Jadi aku harus ngomong sama Lia kalau aku cinta padanya?”
“Ya nggak gitu. Tapi, kamu serius, nggak mau jadi kuli lagi?”
“Ya iya lah.”
“Masuk rohis. Nanti kamu nggak akan jadi kuli cinta siapapun. Termasuk Lia.”
“Jadi aku bisa mencintai siapapun tanpa harus melakukan apa yang dia mau?”
Pertanyaan yang bodoh ternyata karena bukan itu yang dimaksud Abdi. Abdi yang juga pengurus rohis menyarankan aku masuk rohis agar aku bisa belajar banyak tentang kegiatan rohani keislaman, juga memperdalam ilmu agamaku melalui kajian rutin tiap pekan. Apa nggak aneh ya seorang pemain voli yang nggak pernah shalat dzuha mendadak masuk menjadi anggota rohis? Agar, salah satunya menghapus titelku sebagai kuli cinta Lia? Jadi penasaran bagaimana alurnya hingga melepaskan gelar yang kubuat sendiri itu.
Hari ahad itu diadakan peringatan maulud Nabi. Abdi mengajakku bantu-bantu panitia. Aku manut. Aku mengikuti apa yang Abdi katakan. Katanya, niatkan semua itu karena Allah. Bukan karena Lia, bukan pula demi pelepasan gelar kuli. Aku jalani. Sehingga untuk pertama kalinya aku mengikuti kegiatan keislaman dengan niatku sendiri, tanpa paksaan. Namun di saat yang tidak disengaja Lia melintas di depanku, atau aku melihatnya dari kejauhan. Mata ini ingin menatap ia lama dan tak ingin menyiakan kesempatan memandang wajahnya yang bening itu.
---
Waktu terus berlalu. Makin hari makin rajin saja diriku mengikuti kegiatan rohis. Kajian tiap pekan, membersihkan masjid, dan terakhir Abdi mengajakku bergabung dengan tim nasyid sekolah. Katanya suaraku lebih pantas untuk mengalunkan lirik yang islami dibanding aliran metal atau rock. Ya, aku manut. Demi…Allah! Bukan demi…Lia. Aku mulai melupakan sosok penuh prestasi yang dulu menjadi ‘majikanku’ itu. Hingga aku tak sadar kalau sudah tiga hari ia tak masuk sekolah karena sakit.
Ingin sekali menjenguknya dan menjadi orang yang pertama melihat kondisinya di rumah sakit. Maagnya kambuh, begitu kata orangtua Lia setelah akhirnya aku dan beberapa kawan sekelas menjenguknya. Lia, semoga dia lekas sembuh. Kalau saja aku masih jadi kulimu, perintahkan saja aku membeli buah atau mengambilkan obat ke apotik. Kalau saja kini aku tak menjadi sosok yang pemalu pada banyak siswi, aku akan bertigkah kocak sehingga membuat Lia tertawa dan melupakan sakitnya. Sayang, ia hanya diam memandangi kami yang datang untuknya. Bahkan sesekali kutangkap ia menatapku. Tatapan yang lain dan penuh makna. Namun aku tak tahu apa makna itu. Tak mungkin lah itu bermakna, cinta!
Cinta ini tetap ada untuknya. Bahkan alasan yang dulu ada kini berubah menjadi sebuah ketulusan dalam diriku. Aku jatuh cinta padanya bukan lagi karena segudang prestasi ataupun wajahnya yang bening dan parasnya yang memesona. Tetapi karena lakunya yang baik, tingkahnya yang santun, dan ketetapan hatinya untuk menutup seluruh auratnya. Dan ada yang membuat aku tak percaya pada apa yang dikatakan Abdi. Diam-diam dulu saat kukatakan perasaanku pada Abdi, ia menyampaikannya pada Lia dan…Lia lah yang meminta Abdi untuk mengajakku masuk rohis.
“Nggak ada yang disesali karena masuk rohis kan?” Lia bertanya. Aku memberanikan diri menjenguknya untuk kedua kali, dan sendiri.
“Alhamdulillah. Thank’s ya, aku banyak mengalami perubahan kalau kamu tahu.”
Lia tersenyum sambil menahan nyeri.
“Jangan berterimakasih, Gih. Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi.”
Aku mengangguk. Dari sana aku menangkap sinyal-sinyal yang mengkhawatirkan karena tidak biasa. Wajah Lia mendadak pucat pasi. Selang infus tiba-tiba mengalirkan cairan infus dengan derasnya. Aku keluar memanggil dokter atau suster namun semuanya sepi. Tak ada yang bisa kuperbuat lagi selain menungguinya. Ia kejang, namun apa boleh aku menyentuhnya?
Alhamdulillah seorang dokter datang menangani. Mama dan Papa Lia juga datang. Mereka begitu panik melihat kondisi anaknya yang tiba-tiba di luar dugaan mereka. Seisi rumah sakit bagaikan kuburan yang penuh mayat. Kepalaku pening, tak kuasa melihat kondisi Lia yang begitu lemah. Hanya kejang padanya yang membuat ia nampak bertenaga. Kami semua hening. Mama Lia terisak dalam dekapan suaminya sedang aku terus memanjatkan doa untuknya. Sembuhkan dia ya Allah, sembuhkan Lia…
 Sementara dalam doa, bayangan masa lalu melintas begitu saja. Menambah kesesakan akan takut kehilangan orang yang kucintai.
“Hujannya deras lho, Gih. Beli pulsanya nanti saja lah!”
“Tapi kamu butuh sekarang kan? Nggak apa-apa. Bentar aja pasti aku kemari. Kamu bisa telepon Mamamu.”
“Memang kamu nggak ada pulsa? Kalau ada, aku pinjam saja.”
“Nggak ada. Aku sekalian beli!”
Saat itu masih menjadi kuli. Kuterobos hujan yang begitu dingin mengenai tubuhku hanya untuk gadis itu.
“Kamu pesan snack sebanyak ini sendirian, Lia?” tanyaku.
“Yang lain masih sibuk.”
“Ya sudah, kuabawakan ya.”
“Berat lho!”
“Segini enteng, aku biasa bawa yang lebih berat dari ini.”
“Memang bawa apa?”
“Bawa Ibuku yang pingsan.”
Lia tersenyum. Ah, senyum yang terkembang dalam ingatan kini mejadi belati yang mengiris hati. Aku tak mau kehilangan Lia.
Kami tak bisa menahan tangis saat dokter mengatakan Lia tak bisa diselamatkan. Akupun tak begitu peduli dengan informasi dokter yang menceritakan mengapa Lia bisa kejang seperti tadi. “…Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi.”
Itu yang Lia katakan. Aku bahkan tak tahu jika yang ia katakan itu adalah pertanda. Namun, kehidupan dan kematian itu, Allah yang telah mengaturnya. Kalaupun aku tahu perkataan Lia adalah pertanda, bukan berarti aku bisa menahannya untuk terus berada di dunia ini.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Seorang yang selalu di hati, kini telah pergi.
Bunga cempaka di pekuburan, mengingatkan pada sebuah kenyataan
Sang majikan telah meninggalkan kulinya
Kuli cinta itu kemudian tahu bahwa ia mengakui keberadaan cinta itu
Catatan harian dari seorang ibu diterima kuli
Ia tak tahu harus bahagia atau sedih
Waktu telah menjawab…
--selesai--

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih telah berkunjung :)