Wednesday, 30 January 2013

5 Kiat Mengkondisikan Hati Saat Anak Sakit (Karena Pengalaman Pahit Masa Lalu)



Bunda, saat anak sakit adalah saat yang tidak ingin kita harapkan. Apa yang dirasakan anak kita ketika itu, seolah kita rasakan pula. Hati cemas gelisah, pikiran tak menentu, dan tak jarang pekerjaan kita jadi kurang fokus kala buah hati tercinta tidak seperti biasanya. Hari-hari menjadi kurang semangat kan ya kalau tiada canda mereka?

Nah, Bunda. Adakalanya kita mengalami pengalaman pahit berkaitan dengan hal itu. Pengalaman pahit yang saya maksud adalah ketika kita pernah kehilangan anak karena sebelumnya ia sakit. Dan ketika di kemudian hari, kita mendapati anak kita yang masih hidup itu tiba-tiba sakit. Apa yang kemudian kita rasakan? Selain perasaan yang saya sebutkan di atas, ada satu titik di mana kita merasa SANGAT KHAWATIR jika nasib yang sama dengan anak sebelumnya akan menimpa anak kita (yang masih hidup) yang sakit.

Kalau sakitnya sehari langsung sembuh, mungkin kita tak akan berpikir macam-macam (baca: berprasangka buruk kepada Allah). Tetapi jika sudah lebih dari tiga hari misalnya, bisa jadi kekhawatiran itu menuai puncaknya yang ujung-ujungnya kita stres juga. Mengeluh, terus membahas kepada suami, atau mungkin sedih berkepanjangan. Itulah luapan-luapan yang lebih dekat dengan kita...para istri.

“Kok nggak sembuh-sembuh juga ya? Padahal sudah diperiksa dokter katanya hanya panas biasa.”

“Kok masih panas juga ya? Padahal penurun panasnya sudah diminumkan.”


“Apakah anakku ini akan mengalami nasib yang sama seperti dia...”

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?”

“Mas, bagaimana lagi ini? Belum sembuh-sembuh juga?”

Itulah yang sering terlontar dari mulut kita. Sebetulnya,  suami kita pun sama paniknya. Tetapi perncurahannya jelas beda. Mereka cenderung diam dan –harus—menjadi sosok yang lebih bersahaja dibanding kita. Ia akan ringan membelai kepala kita dengan lembut, meski hatinya juga penuh kecamuk.

Nah, Bunda. Mari kita coba kiat-kiat berikut agar rasa khawatir kita tidak berlebihan.
1.       Memberikan pengobatan semaksimal mungkin.
Masing-masing orangtua memiliki penanganan yang berbeda-beda dalam menghadapinya. Ada yang terbiasa dengan obat dokter, ada juga yang lebih mantap dengan obat-obatan herba. Tetapi, untuk mengetahui kepastian dari penyakit yang diderita, tentu saja kita harus memeriksakannya agar diagnosisnya akurat, sesuai dengan kapasitas sang ahli.
2.       Menjaga dzikir setiap saat.
Dengan senantiasa berdzikir, lidah kita akan basah dengan mengingat Allah. Pikiran kita tidak kosong dan selalu diliputi dengan “tawakkal”.
3.       Berkomunikasi dengan pasangan.
Kita tentu butuh seseorang untuk curhat kan, Bunda? Nah, ajaklah suami untuk berbincang. Hindari terlalu banyak kalimat kekhawatiran...agar suami juga merasa tenang. Kasihan juga suami kita jika harus menanggung dua beban. Beban memikirkan anak sakit, juga beban mendengarkan segala bentuk kekhawatiran kita –yang berlebihan-.
4.       Melakukan pengobatan lanjutan.
Jika dirasa dalam beberapa hari tidak ada perubahan, maka berusahalah untuk mencari info pengobatan lain yang bisa dilakukan, karena ini bagian dari ikhtiyar kita.
5.       Tetap berpasrah kepada sang Pencipta.
Dengan menghadirkan tawakkal, insya Allah pikiran kita lebih tenang juga. Hidup dan mati adalah urusan Allah, setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing, termasuk anak kita.
Jika kita telah berusaha, maka hasil ada pada kuasa Allah. Alangkah lebih baiknya jika kita sadar bahwa tiada kekuatan dan kekuasaan selain datangnya dari Allah Swt.



Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Salam hangat dari saya. Sampaikan kecup cinta untuk buah hati Bunda semua J

2 comments:

  1. betul banget mbak...makasih ya share nya...

    ReplyDelete
  2. Hmm...sama-sama.

    Mbak Nunung pernah mengalami hal di atas?

    ReplyDelete

Terima Kasih telah berkunjung :)