Tuesday, 23 April 2013

Tentang Masakan. Apa Rasa Masakanmu?

Apa rasa masakanmu? Cenderung asin, manis, atau rada-rada asam? Itulah masakan. Tetapi, walaupun sebenarnya dia punya rasa yang nyata, akan memiliki rasa yang berbeda jika sudah dicicipi--atau mungkin dilahap-- oleh banyak orang.

Misalkan saya memasak opor ayam. Saya sudah masukkan berbagai macam bumbu sesuai pengetahuan yang dimuliki, juga menjadikan acara memasak saya menjadi satu hal yang menyenangkan atau dengan inti...saya menikmati. Alhasil, jadilah opor ayam ala chef Isnaeni DK. Saya masukkan ke dalam wadah, lalu saya hidangkan di meja makan.

Opor ayam tadi menunggu seseorang datang menyantap. Datanglah anak, suami, dan keluarga yang menikmati opor ayam yang menurut saya sangatlah mantap lagi yammy and very very nyummy. Hehehe....

Namun yang keluar dari mulut mereka adalah komentar yang bermacam-macam.

"Ayamnya kurang empuk"

"Santannya terlalu kental"

"Kemanisan"

"Kurang garam"

"Tapi...enak kok. Aku suka."


Apakah kau tahu apa yang ingin kusampaikan saat ini? Tentang masakan? Tentu! Tentang penilaian? Itu juga benar.

Nah, kawan. Pernahkah kita perhatikan suatu saat kita dinilai oleh orang lain? Bukan soal masakan, tetapi tentang akhlak dan perilaku kita. Begitu banyak manusia yang ada di sekeliling kita. Keluarga, saudara, teman, rekan kerja, atau siapa saja. Mereka bisa memberikan penilaian yang bermacam-macam atas ucapan dan perilaku yang terlihat dari kita. Juga, akan keluar sebuah kesimpulan dari mereka tentang diri kita.

Saturday, 20 April 2013

Naskah Drama SDIT Permata Hati: CINTAI AL QURAN, CINTAI ALLAH

Beberapa waktu lalu SDIT Permata Hati Batang menyelenggarakan wisuda tahfidz dan qiroati. Saya kembali mengisi pagelaran hiburan dengan modern dance with nasyid yang diisi oleh siswa kelas III, nasyid semi acapela oleh grup seni vokal, juga drama yang bertemakan al quran sebagai pagelaran inti dalam rangkaian acara hiburan.

Nah, mau tahu bagaimana naskahnya? Kita simak yuk! Drama ini memadukan musik, akting, juga pesan ekspresif yang tersampaikan dari para pemainnya!

CINTAI AL QURAN, CINTAI ALLAH



Ada semangat dalam dada
Ada rindu bersemayam di dada
Lantunan indah ayat-ayatnya
Selalu sejukkan ruh kami, yang penuh dengan lika-liku kehidupan
Dengan ini...Teater An-Nahl kids dari SDIT PERMATA HATI menampilkan drama dengan judul...CINTAI AL QURAN, CINTAI ALLAH
Drama ini berjudul CINTAI AL QURAN, CINTAI ALLAH. Dikisahkan ada dua anak bernama Ica dan Nabila yang sangat malas belajar qiroaty dan tahfidz. Mereka selalu membangkang dan melawan ustadzahnya jika sedang diberi pelajaran. Hingga menjelang wisuda, mereka kesulitan mempersiapkan. Akankah Ica dan Nabila berhasil mempersiapkan ujian menuju wisuda dengan baik? Kita langsung saja masuk ke TKP! 

(Hanin-farin-hanifah-alsah-abel menyanyikan lagu terima kasih guruku)
Ica dan Nabila datang mengejek mereka
Ica          : “Sok hormat banget sama ustadzah Salwa. Pelajaran tahfidz aja kok bangga!”
Nabila   : “we we we we we we...(menirukan lagu terima kasih guru) emang penting gitu? Masalah buat gue gitu kalo gue nggak nyanyi...???”
Ica          : “Mendingan kita nggak usah masuk aja ya Bil, ngumpet ke kamar mandi aja yuk!”
Nabila   : “Yuuuk...”
Alsah     : “Ica, Bila...kalian sudah tahu kan kalau kita ini harus mencintai al quran? Nah, pelajaran tahfidz itu sangat penting karena di dalamnya kita menghafalkan al quran...”
Farin     : “Iya, apalagi bentar lagi kita akan ujian tahfidz. Kalian nggak takut gagal?”
Ica          : “Emang gue pikirin getoooo....”
Nabila   : “Apalagi pelajaran qiroaty...fuiiiihhh...males banget deh aku. Harus baca dengan tartil lah, tajwid yang betul lah...suara yang fasih lah...cereweeeet banget....”
Hanin    : “Apa yang dikatakan Ustadzah Zahra itu benar. Kalian nggak boleh begitu!”
Abel       : “Kalian harus semangat dan serius seperti kami. Ingat nggak, man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti dia akan berhasil.”
4 anak  : “Betul itu!”
Hanifah: “Ustadzah Salwa datang! Ayo kita bersiap-siap. Juz amma dan buku kontrolnya jangan lupa. Semangat semua ya teman-teman!”
4 anak  : “Oke!”


Thursday, 18 April 2013

sebuah cerpen anak yang patut untuk disimak : Air Mataku, Mimpiku


Air Mataku, Mimpiku
Oleh: Isnaeni DK

Tempat itu terbayang dalam anganku. Sebuah tempat yang akankujumpai kelak, namun belum pernah sama sekali aku melihatnya. Tempat yangkonon penuh dengan persamaan nasib dan penanggungan. Benarkah itu? Aku taktahu. Kata banyak orang, selalu ada keceriaan di sana. Akan ada perhatian yangtulus dari bapak dan ibu asuh. Akan ada pendidikan layak dan kecukupan makananyang menghampiri kami tanpa harus memintanya. Kami akan disekolahkan dan akanterus dididik. Kami akan mendapatkan kasih sayang meskipun yang memberikan itukepada kami bukanlah orangtua kandung kami sendiri.
Tempat itu makin terngiang. Larut aku pada tempat asing yang belumpernah kukenal. Semakin larut pula diri ini dalam kesendirian. Paman Kono danBibi Yanti masih ke sawah memetik cabe gunung.
Tersentak aku seketika. Nasi di atas tungku belum kuangkat! Padahaltadi Bibi Yanti bilang, aku harus mengangkatnya lima belas manit lagi. Dan, inisudah hampir satu jam belum kuangkat juga. Curiga aku! Jangan-jangan...nasi itusudah gosong? Ya Tuhan...
***
Paman Kono terus menunjuk kepada panci. Matanya membulat penuh,bergantian menatap ke arahku dan kepada benda tadi. Aku berkaca-kaca, namunbenda itu hanya diam. Ia hanya pasrah dengan kondisi nasi yang tak layak untukdimakan.
Nasi bukan sudah menjadi bubur, namun mengering seperti keringnyahatiku. Aku benar-benar melakukan kesalahan. Dan, seperti biasa saat aku sedih,dengan mudahnya air mata ini terjatuh. Berderai, membasahi pipiku. Sungguh, akutak pernah sengaja melakukannya. Aku adalah anak baik. Percayalah itu, Paman.
“Tari! Apa belum cukup kami mendidikmu selama ini? Apa uang sakuyang kami berikan juga kurang? Dikasih tugas kecil saja nggak becusmelaksanakan. Anak perempuan kok gitu! Mana hasil sekolahmu selama ini? Pamansama bibi ke sawah juga untuk mencari uang...untuk membiayai sekolahmu. Kamumalah nggak tahu diri dan enak-enakan tiduran!” Paman Kono melotot. Akuketakutan sekali dan belum mampu berucap.
“Tadi kan sudah bibi kasih pesan sih, Tar...” tambah Bibi Yanti.
“Huh! Mana dengar dia. Punya kuping tapi nggak buatmendengarkan omongan orangtua! Kamu tahu nggak? Di panti asuhan nanti, kamunggak akan manja-manja! Meski kamu disekolahkan di sana, tapi kamu akan tetapdiberi pekerjaan sebagai anak perempuan! Kamu akan masak, mncuci, mengepel,menyapu halaman, membersihkan tempat tidur, juga membersihkan kamar mandi. Manabisa kamu melakukannnya kalau kamu begini?”
Paman Kono menyebut tempat itu lagi. Padahal, jika aku bolehmemilih, aku lebih senang tinggal bersama Bibi Yanti daripada harus berpisah.Meski seringkali kurasakan bebanku begitu berat di rumah ini, meski aku selalumerasa beda di rumah ini, setidaknya mereka bukan orang asing. Merekakeluargaku sendiri.
“Dengarkan, Paman!” perintah Paman Kono.
Aku menganggguk pelan.
“Cuci pancinya sekarang! Masak nasi lagi!” BRAKK!!!
Paman Kono meninggalkan dapur sambil menggebrak meja. Bibi Yantiyang baik itu mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Beliau hanya mengucapkansatu kata saja. Sabar...
Mungkin memang ini telah menjadi jalan hidupku. Aku yang baru lulusSD ini sudah terbiasa hidup mandiri lagi sendiri. Ayah dan ibuku bercerai saatumurku belum genap tiga tahun. Mereka sama-sama menikah lagi setelahnya. Akutinggal bersama ibu, ayah tiri, juga nenekku. Sedangkan ayah tinggal bersamakeluarga barunya di kampung yang aku tak tahu namanya. Hingga pada waktu-waktuselanjutnya aku tahu bahwa ia menikahi banyak wanita di luar sana. Menikah darisatu wanita ke satu wanita yang lain dengan modal KTP palsu.
Sedangkan saat aku memasuki kelas satu SD, ibu meninggal karenapenyakit asmanya. Bersama nenek lah kemudian aku tinggal. Dia adalah orang yangpaling menyayangi diriku. Bahkan aku merasa, ibuku pun tak bisa menandingikasih sayangnya padaku. Ibu tak membelaku jika ayah tiri menyiksaku. Ibu hanyadiam dan lebih memerhatikan ayah tiriku. Dengan nenek lah aku selalu mengadudan berkeluh kesah. Dia juga yang melindungiku jika ayah tiriku hendakmemperlakukanku dengan kasar.
Hanya dua tahun bersama, nenek pun dipanggil yang maha kuasa. BibiYanti datang laksana malaikat yang menyelamatkanku dari segala kesengsaraan.Bahkan dulu aku sempat berputus asa karena tak ada bayangan lagi bisa sekolah.Tak ada cita-cita lagi untuk bisa sekolah, yang ada hanya pikiran untuk putus sekolah dan selamanya menjadi anak yang tidak lulus SD.
“Kamu mau kan tinggal bersama Bibi?” Bibi Yanti memelukku erat saatorang ramai melayat. Wanita itu terus mengeluarkan kalimat penghibur padakuyang sudah yatim lagi piatu.

Thursday, 11 April 2013

Cerpen: Setitik Harapan oleh Isnaeni DK



Setitik Harapan

Oleh : Isnaeni DK

Cuaca yang tak menentu terus menemani hari-hari Aminah yang sendu. Ia tak tega melihat raut wajah yang disuguhkan suaminya. Ia tahu benar bagaimana keuangan keluarganya saat ini. Mereka tengah berusaha mengembalikan hutang kepada Pak Haji Rohman yang sebentar lagi menemui jatuh temponya. Nominal yang bagi mereka cukup banyak itu menjadi satu fokus utama pencarian uang yang mereka lakukan.
Pak Haji Rohman memberikan waktu tiga bulan sejak peminjaman. Yang membuat Aminah juga lega, ia tak meminta bunga ataupun tambahan lebih saat mengembalikan. Namun ia sangat menyayangkan adanya ancaman yang Pak Haji katakan sesudah menyerahkan uang itu. Kekhawatiran panjang mulai menemani setiap detik yang Aminah punya.
Tiga juta rupiah berhasil ia kantongi ke rumah sakit untuk membayar biaya perawatan Amir. Ya. Tiga bulan lalu anak satu-satunya itu harus mendapatkan perawatan intensif di sebuah rumah sakit swasta. Terjadi peradangan di paru-parunya yang juga disertai sesak nafas. Bocah laki-laki itu nampak kurus selama empat hari di sana. Aminah lah yang setiap hari menungguinya. Suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik itu tentu harus berangkat mencari rizki. Karena ia tahu meski sudah mendapatkan uang untuk membayar perawatan Amir, ia juga harus menjalankan kewajibannya. Untuk melunasi hutang itu, juga kebutuhan sehari-hari yang pasti akan selalu ada.
“Bagaimana, Pak? Apa uangnya sudah cukup?” Aminah ragu menanyakan.
Dua hari lagi suaminya harus menyerahkan uang itu pada Pak Haji Rohman. Ia pun tahu terakhir menghitungnya, jumlah uang baru dua juta rupiah. Gelang dan kalungnya sudah terjual, teve telah tiada, dan tabungan suaminya terpaksa diambil dari pabrik. Tapi ternyata belum juga menjadikan seperti jumlah yang diinginkan. Aminah menahan sesak yang begitu dalam. Ia tak menyangka kalau akan begitu jadinya.

Abdul menggeleng lemas. Sore itu ia pulang dari pabrik langsung menghitung ulang uang yang ada. Ia bersyukur dalam perjalanan pulang tadi ada tetangga yang menyuruhnya memperbaiki komputer. Jadi, bisa dijadikan tambahan meski tetap saja masih kurang.
Ia menjauh dari uang itu. Mendesah dengan kuat lalu memegangi kepalanya. “Ya Allah, berat sekali beban yang harus kupikul. Apa memang rumah ini belum menjadi hak kami?”
Aminah memegangi pundak suaminya. Ia sangat tahu betapa penat pikirannya. Abdul menjadi lelaki yang paling menyesalkan nasib Amir. Perawatan di rumah sakit yang berakhir dengan kematian itu menjadikan Abdul bak orang kehilangan akal selama seminggu. Ia tak mau sholat, dan hanya mau termenung di kamar menangisi kepergian anaknya yang sudah kelas satu SD itu.
Kini, setelah dua bulan lebih ia kembali bangkit pasca musibah itu, Abdul menjadi orang yang terbebani lagi dengan pelunasan hutang dan ancaman Pak Haji Abdul. Aminah juga sampai tak percaya kalau ia akan mengusir mereka dari rumah kontrakan jika tiga juta itu tak juga lunas pada waktunya. Wanita yang selalu menutup auratnya itu mencoba memahami apa yang dirasakan suaminya. Setiap hari pun ia tak tinggal diam. Aminah menjadi buruh cuci dari tiga rumah dalam sehari. Pukul lima sampai delapan pagi ia pergi ke rumah Bu Handoko. Begitu pekerjaan selesai, langkahnya tertuju ke rumah Bu Mia. Dhuhur pulang, lalu pukul dua sampai lima sore ia menjadi buruh cuci di rumah Bu RT. Jika dari tiga rumah itu tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, Aminah akan mencari pekerjaan di rumah lain, atau mungkin sekedar mencuci piring di rumah makan atau restauran. Total semuanya bisa mencapai enam ratus ribu sebulan. Tapi karena begitu banyak kebutuhan setiap bulannya, yang bisa diberikan pada Abdul untuk mencicil pelunasan hutang pun hanya sedikit.

Abdul tak pernah protes. Ia juga tahu istrinya sudah pontang-panting seperti dirinya.
“Dua juta dua ratus lima puluh, Bu.” kata Abdul. “Padahal tinggal dua hari lagi. Dari mana kita dapat uang, Bu? Gaji mingguanku sudah kuminta...”
Aminah beristighfar. Masih melekat kuat dalam ingatan tentang kematian Amir. Ingin sekali ia meneriakkan kenapa harus membayar jika pada akhirnya anaknya mati? Bayangan tubuh lemas Amir pun kembali terbayang.
Kini beban yang berat pun menjadi teman yang setia. Ia sadar semua itu ujian dari Allah. Namun melihat suaminya yang kepayahan, tak urung ia ingin mengajukan protes pada Allah atas ketidakadilan yang dihadapi. Namun ia ingat apa yang sudah ia dapatkan dalam majlis taklim. Salah seorang pemateri mengatakan bahwa hidup harus dijalani dengan sabar dan syukur. Saat menghadapi musibah, ujian, atau sejenisnya kita harus bersabar. Saat menerima nikmat dari Allah maka syukur tak boleh dilupakan.
Meneteslah air matanya. Ia buru-buru meninggalkan Abdul supaya tak diketahui kalau dirinya menangis. Aminah tersungkur di pojokan tempat tidur. Ia adukan semua kesulitan yang sedang ia hadapi juga kekhawatiran akan kehilangan tempat tinggal.
“Hamba tidak masalah akan tinggal dimanapun, Ya Allah...namun hamba khawatir kondisi suami akan memburuk jika kami diusir dari sini. Berikanlah harapan itu ya Allah. Jangan sampai kami diusir. Maka cukupkanlah uang yang kami punya sampai tiga juta ya Allah...”
Masih teringat jelas bagaimana Abdul tak kuat saat takdir menjemput Amir dan semua keluhan yang keluar dari mulutnya tentang kesusahan yang mendera. Yang dikhawatirkan Aminah adalah suaminya bisa stres bila Pak Haji Rohman mengusir mereka.
“Aku sudah kehilangan harapanku satu-satunya, Bu. Amir tak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. bagaimana aku bisa bahagia kalau tak ada Amir?!”